Rabu, 10 Juni 2020

Pada Garis Waktu

Andai bisa memilih, memilih ku menepi sejenak pada garis waktu masa lalu yang menuntut ketenangan dan jauh dari kecemasan. Bahagia menjalani kehidupan sebagaimana merangkak fokus terhadap visi yang telah terbubuh di lembar - lembar kertas pada jurnal setiaku. Bila dahulu saja dapat dengan nyaman menikmati hidup tanpa harus cemas dan berfikir berlebihan, mengapa sekarang tidak? Rasanya akan lebih sulit bila harus memulai kembali dengan siasat baru yang tentu saja berbeda. Kisah ini dimulai saat penulis memasuki usia sembilan belas tahun. Usia yang berada pada fase remaja tahap akhir yang sedang ambisius - ambisiusnya memikirkan masa depan. Baik soal jati diri, pendidikan, karir, bahkan perihal cinta. Tidak cukup banyak pengalaman mengenai percintaan, selama hidupnya, penulis hanya lebih fokus terhadap pendidikan dan karirnya. Cukup terkejut apabila saat menginjakan usia sembilan belas tahun ini, tiba - tiba cinta datang dalam kehidupan, menjadi catatan perdana yang terukir dalam sejarah kehidupan, penulis pun jatuh cinta. Namun ini sebenarnya merupakan awal mula toxic relationship terjadi. Perkenalan singkat penulis dengan dia tidak terkonsep. Tiba - tiba datang dan begitu saja saling menyatakan perasaan. Namun karena kesibukan masing - masing menjadi alasan mengapa kami jarang bertemu, bahkan bila ada kesempatan bertemu pun tak banyak waktu yang dihabiskan, waktu yang singkat hanya untuk sekedar melepas rindu. Tak hanya terbatas oleh jarak, semakin jauh jarak semakin pula komunikasi tidak terjaga. Komunikasi pun jarang dilakukan, bila tidak ada yang mengalah, maka bisa saja kami saling menutup diri satu sama lain. Penulis yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, rupanya cukup terkejut dengan apa yang dirasakan akhir - akhir ini. Mulai merasa berpikir yang berlebihan, lebih berkonotasi negatif terhadap keadaan, dan bahayanya penulis selalu merasakan cemas yang berlebihan dalam menyikapi keadaan ini dan kerap menjadi timbul rasa malas dan tidak semangat dalam menjalani hari. Tentunya di dalam hati nurani penulis, inginnya adalah tetap menjadi diri penulis yang tenang dan tetap fokus merangkak menuju visi hidup yang sebenarnya dan tentu saat ini prioritas penulis adalah menyelesaikan pendidikan. Namun semenjak mengenal cinta, rasa cemas dan berpikir berlebihan selalu menghantui dan bahkan mengganggu. Bahkan overthiking ini adalah hal yang sangat menakutkan bila dibiarkan berkembang didalam kehidupan penulis.
Dengan cara memahami diri mungkin adalah suatu faktor yang harus penulis pahami. Tak semua pola pikir harus diikuti, tak baik juga selalu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak usah dipikirkan atau biasa disebut dengan overthiking. Memahami diri belakang ini yang kerap merasakan cemas dengan mencoba berteman baik dengan kecemasan itu sendiri sehingga akan lebih menikmati hidup dan tak usah memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan. Percaya saja pada garis waktu. Tuhan telah mengatur semuanya pada garis waktu. Penulis percaya waktu yang akan menjawab semua kecemasan. Karena bila berbalik pada takdir, penulis percaya bahwa apa yang akan didapati nantinya pasti adalah yang terbaik dikehendaki oleh Tuhan. Sesekali, tak ada juga salahnya bila penulis mencoba untuk lebih peduli dengan diri penulis sendiri, tanpa harus memikirkan hal yang membuat pikiran menjadi bekerja ekstra dan menjadikan cemas itu datang dengan menimbulkan konotasi negatif dalam pikiran. Penulis pun merasa bahwa disaat seperti ini tentu membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan objek berbagi pikiran. Sangat penting bahwa disaat seperti ini peran ahli psikologis satu persen untuk memberikan penulis solusi terbaik dalam mengatasi keadaan psikologis yang kurang sehat ini. Tentunya hal tersebut tak lain untuk mendapatkan sebuah solusi untuk mengatasi toxic yang ada dipikiran. Tentu memang harus ada upaya dari dalam diri penulis untuk mengatasi overthinking Bila dirasa cemas tersebut tak kunjung hilang, tak hanya overthinking saja yang akan menyerang pikiran penulis, melainkan senang menyendiri juga akan menjadikan suatu kebiasaan baru penulis. Peran ahli psikologis satu persen sangat diperlukan disini. Untuk itu adanya peran ahli psikologis satu persen ini juga merupakan upaya untuk mempersiapkan mental penulis agar lebih nyaman berteman dengan situasi yang sedang dihadapi penulis saat ini, bukan malah stres atau bahkan depresi yang didapat, melainkan solusi dalam menjalani kehidupan dengan nyaman dan tenang dan tentu toxic relationship akan lenyap pada garis waktu yang telah ditentukan. Pada saat ini, diusia penulis saat ini, hanya ingin berfokus terlebih dahulu dengan pendidikan. Masih jauh sekali jalan yang harus ditempuh penulis. Jadi, waktu penulis tidak boleh habis hanya sekedar sibuk untuk meratapi kecewa dalam masalah cinta. Cinta itu indah, namun lebih indah bila dapat saling memahami dan saling mengerti. Apa sulitnya bersabar sedikit saja sampai pada garis waktu yang kelak akan membuktikan. Penulis percaya pada garis waktu kelak, bahwa cinta akan datang tanpa banyak aturan, ataupun tuntutan. Mencintai dengan setulus - tulusnya tanpa syarat adalah cara mencintai dengan berteguh saling memahami satu sama lain. Jadi, pahami diri, dan jadilah diri sendiri, maka cinta akan menghampiri.